cerita Malik; jalan pulang Yeng penuh rindu
---
Cerita Mudik: Jalan Pulang yang Penuh Rindu
Libur Lebaran akhirnya tiba, dan seperti biasa, aku bersiap untuk perjalanan mudik ke kampung halaman. Pagi-pagi sekali, kami berangkat menyusuri jalan berliku yang diapit perbukitan hijau. Udara sejuk pegunungan menyambut dengan kabut tipis yang masih menggantung di langit. Heningnya suasana hanya dipecah oleh suara mesin motor dan candaan ringan di antara kami.
Di tengah perjalanan, aku sempat berhenti sebentar di pinggir jalan. Di sanalah aku berdiri, membentangkan tangan sambil tersenyum lebar. Di belakangku, bukit menghijau memeluk awan kelabu yang menggantung rendah. Rasanya seperti alam pun ikut menyambutku pulang.
Perjalanan terus berlanjut melewati jalan-jalan sepi yang diapit ilalang dan pepohonan tinggi. Di kejauhan, matahari mulai menampakkan sinarnya, menyinari ladang dan perbukitan yang tampak seperti permadani hijau. Pemandangan itu selalu berhasil menenangkan hati—seolah berkata, "Selamat datang kembali."
Mudik bukan sekadar perjalanan pulang. Ia adalah perjalanan kembali ke akar, ke tempat di mana kenangan masa kecil tertanam, dan kehangatan keluarga menanti. Meski jalanan panjang dan terkadang melelahkan, setiap detiknya terasa bermakna.
---
Comments
Post a Comment