Cerita lebaran dan mudik ke cianjur

Pagi itu di Bekasi masih dipenuhi suasana Lebaran hari kedua. Tawa keluarga terdengar dari ruang tamu, piring-piring kue masih tersusun rapi di meja, dan obrolan hangat seakan belum ingin berhenti.
Tapi kali ini terasa berbeda, karena aku tahu… setelah ini aku akan pulang kampung.
Subuh hari, aku berangkat. Jalanan masih sepi, langit perlahan berubah warna. Dalam perjalanan menuju Cianjur, hatiku terasa penuh rindu tenang, dan sedikit haru.
Sesampainya di kampung, semuanya terasa lebih dekat. Udara segar, suasana sederhana, dan yang paling penting keluarga yang sudah menunggu.
Kami memutuskan pergi ke laut.
Di sana, aku bersama keluargaku dan nenekku. Sosok yang selalu jadi alasan kenapa pulang kampung terasa begitu berarti.
Kami berfoto bersama, berdiri di atas pasir dengan angin laut yang lembut menyapa. Nenek tersenyum sederhana, tapi hangatnya terasa sampai ke hati. Aku sadar, momen seperti ini tidak datang setiap waktu.
Klik.
Satu foto itu bukan cuma kenangan biasa.
itu adalah cerita tentang kebersamaan, tentang waktu yang berharga, dan tentang orang-orang yang tidak tergantikan.
Lebaran kali ini bukan soal kemewahan atau kemana pergi,
tapi tentang bisa berdiri di samping keluarga… dan melihat nenek tersenyum bahagia.

Comments

Popular posts from this blog

hari kemerdekaan Indonesia" yang ke 80!

Perayaan Agustusan di GOR Tanjung Duren

cerita Malik; jalan pulang Yeng penuh rindu